Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2009

Tikus-tikus bernyanyi

"Dalam kesempatan ini jauh lebih baik, sebelum senja menapaki aspal berabu dan sengaja hilang karena tergambar oleh warna gelap. Kami sudah mengantongi harapan untuk butiran nasi dengan rasa pedas malam ini. Dan tentunya dapat beristirahat dari tusukan tajam pedang ekonomi tanpa harus mendengar nyanyian dari dalam perut yang biasanya menghantarkan ku pada tidur yang tidak nyaman."

Belum sempat kulepas tawaku diujung cerita semalam, lantas aku harus bersedia terpukul perih karena siksa derita yang tertangkap pandanganku. Ini benar-benar terjadi, mereka teman-temanku yang resah dalam pertarungan ganas jalanan. Melawan terik mentari yang terbit diatas pundak dan terbenam saat hendak duduk istirahat. Sebungkus nasi apa adanya adalah pemanis laknat yang selalu mendesak untuk dinikmati. Dan kerongkongan yang menjerit kekeringan hanya bisa menunggu sabar sampai sisa recehan yang tetap tinggal dalam kantong saku. Dengan inilah kerinduan dahaga dapat terobati nantinya. Hanya saja acuhnya mereka menelantarkan nyanyian harapan kami sudah cukup menyakiti perasaan raguku yang bertarung keras diujung tanda tanya. Tapi selalu saja sapa hangat dengan senyum yang cepat berlalu kami sediakan sebagai pelepas lelah mereka. Walau demikian terkadang senyum ini dianggap sebagai kotoran yang telah mengganggu kenyamaan mereka, seperti tawa penjilat yang tak pernah puas dengan keadaan, dengan harapan mengubah makna berandalan yang dianggap sebagai sampah kota yang tidak ada gunanya. Namun jawabku dengan bangga dalam hati adalah kami bocah-bocah mandiri yang tegar berdiri membelakangi dinding kemunafikan. Tat kala keadaan pun tak akan mampu membayar kebebasan kami ini. Dengan segera kutinggalkan wajah-wajah yang tak bersahabat itu.

Langkah gontaiku tetap bergerak cepat melawan deraian ombak pasang yang akan menghantarkan kami ketepian lapar nantinya. Maka sebelum tiba ditepi, sekali lagi kami senandungkan bait-bait nada yang sengaja diteriakkan dari emosi sebagai tanda bahwa semuanya masih tetap bersemangat dan tidak akan pernah menyerah. Terus berulang-ulang dan dengan semangat yang tak surut pula.

Dalam kesempatan ini jauh lebih baik, sebelum senja menapaki aspal berabu dan sengaja hilang karena tergambar oleh warna gelap. Kami sudah mengantongi harapan untuk butiran nasi dengan rasa pedas malam ini. Dan tentunya dapat beristirahat dari tusukan tajam pedang ekonomi tanpa harus mendengar nyanyian dari dalam perut yang biasanya menghantarkan ku pada tidur yang tidak nyaman. Kepuasaanku bukan hanya untuk tanyaku yang terjawab, namun terlebih karena makna mandiri yang kudapat dari pembelajaran tentang arti hidup yang sesungguhnya. Dan juga arti dari rambut lusuh dengan pakaian sederhana yang menyiratkan sebuah jawaban. Untuk apa aku disini? Dan mengapa aku ditempat ini?.

Oppss… tengah khayal ku bangga terlintas, kami harus segera tergusur oleh sirine patroli yang tak segan menangkap tikus busuk kotor seperti aku. Seperti tanpa bosan suara sirine itu tampak seperti penyapu jalanan yang dianggap sebagai deterjen pembersih dari kotor yang kami buat untuk tetap bartahan hidup. Tikus-tikus yang setiap hari bernyanyi ini dianggap tak lebih baik dari tikus yang ada diatas sana. Tikus-tikus birokrat yang mengerogoti jantung orang banyak, dan selalu tertawa bingar ditengah derita orang-orang yang mencari kehidupan sampai pudar. Walau teriak bunda merana dan para pedagang kaki lima histeris memecah sendu. Tikus tersebut sengaja memasang nyanyian dansa diatas gelas-gelas yang berpesta. Dan kami tikus yang dianggap kotor ini harus menyelinap dibalik tanah basah yang dingin untuk bertahan. Sampai kerlap-kerlip lampu kota tak terlihat dan aman kembali bersenggama, tikus ini kembali bernyanyi.

Menjijikan pikirku dalam, seraya petikkan gitarku sunyi di sudut gang. Dan tajamnya senar yang melukai hatiku yang luluh lantak,saat kurindukan keluargaku. Tempat yang jauh lebih baik dari pada sungai-sungai kumuh ini. Tempat ku bersandar dari keringnya terik panas yang setiap hari kujilat. Juga selimut tebal untuk menghilangkan rasa dinginku saat tidur malam menghadap langit yang tak pernah kugapai. Hanya saja angan ku tetaplah angan, yang bersandar pada keragu-raguan untuk kembali atau tetap tinggal. Belum ada kepastian untuk hal ini. Sebuah perceraian keluarga yang menjawab mengapa aku berada di tempat ini. Mengapa aku bisa bernyanyi, karena seorang ayah yang juga seekor tikus birokrat yang membeli kebahagiaannya dengan menelantarkan aku jauh dan sangat jauh. Kesalku saat mengadu padanya hanya ia jawab dengan lembar-lembar materi. Bukan harapan anak yang rindu bermain sampai lelah dengan ayahnya. Hal ini terlihat begitu kejam buatku, ibu yang jauh terlihat murung sembari menunduk membelai rambutku.

Sampai kekecewaan ini merasukiku yang tertinggal hanya nyanyianku untuk melepas kerinduan tadi. Buat sosoknya yang memberiku arti dan semangat untuk selalu tegar seterusnya. Inilah keadaan yang hitam dan berakhir putih. Sekali lagi tikus ini bernyanyi riang.




Senin, 03 Agustus 2009

Teman Hitam

"aku tersentak melihat tingkah mereka. Tatap mata tajam mereka seolah menakut-nakutiku sudah tak menurunkan nyaliku. Dendam yang sejak dahulu tumbuh subur harus di bayar mereka sekarang. Kugerakkan jemariku yang lemah dan lebih suka memegang permen ini. Seraya menggenggam erat sebuah balok yang kudapat ditempat itu, aku membabi buta memukul mereka semua, tak sadarku melihat cercah darah "

Sejak tadi keceriaan ini terus berlangsung, canda tawa yang pecah disetiap sudut suasana kelasku menjadi panggung sandiwara kejamnya teman-temanku ini. Mereka adalah bocah-bocah ingusan yang yang tidak berlaku sesuai waktunya. Mengerti penjajahan dan penindasan dalam setiap perannya. Aktor-aktor antagonis dengan penjiwaan yang melebur dan tak pernah meluntur. Bukan tanpa alasan, Sosokku yang rapuh bersama rasa takut lebih senang berdiri tegak melihat dari kejauhan, karena setiap ulah yang kuperbuat hanya akan memancing mereka untuk memperburuk keadaanku nantinya. Tak jarang tingkah laku mereka datang menertawakan kepedihanku. Aku sudah mulai tak percaya pada keadilan, karena aku melihat mereka seperti serdadu penjajah yang tak akan pernah memerdekanku. Senyumku yang kaku karena keadaan hanya sedikit tempat aduan dari rasa kesal ini. Belum lagi dinginnya perasaan mereka semakin mencerai-beraikan kesabaran, menaklukkan semangat, dan mengubur harapanku.
Ditengah perasaan terasingkan lebih baik mengadu pada khayal pikirku, namun ini tak lebih baik, semuanya hilang saat aku tersadar karena pukulan keras di kepalaku, “Hey Bodoh! Sedang apa kau?” aku tersentak karena pukulan tersebut yang membuat ku jatuh tersungkur dan membuat kotor seragam merah putih yang kukenakan. Terbang anganku pada pagi hari tadi dimana ibu dengan bangganya menyiapkan seragam ini. Senyum perdamaian yang dilontarkannya sebelum aku berangkat tak sebanding dengan apa yang kudapat ditempat ini. Juga kotor yang seharusnya tidak menjadi bagianku, namun inilah yang benar terjadi. Sepertinya dengan sengaja mereka menumbuh-suburkan rasa dendam, sesaat kemudian aku berdiri dan mengusap-usap setiap debu yang melekat didiriku sambil menoleh kedepan melihat davis yang berlalu dengan senyum bangga. Tawa teman-teman yang menyambut kedatangannya terdengar jelas dan lantang. Tubuhnya yang besar menjadikan ia orang yang ditakuti disekolah ini. Tak heran banyak anak-anak lain yang menjilat kekuasaannya untuk beroleh rasa aman. Namun itu bukan pilihan buatku, yang tertulis adalah hal yang harus kukerjakan. Bukan melawan keadaan, karena semua menjadi lebih baik saat aku bisa melihat kekuasaannya habis. Lagi-lagi sorot matanya yang tajam harus menundukkan wajahku yang terlihat ketakutan pilu. Aku tak ingin menangis, tapi kenapa mataku harus meneteskan titik air saat ini. Hal ini cuma akan mempermalukanku. Namun semua sudah terjadi tanpa tertahan, melemahkanku dalam cerita-cerita anak manja yang temanja. Mereka teman-teman hitam yang kosong tanpa citra. Harapku tidak ada bagian seperti ini, hanya sahabat yang sama-sama tertawa dan sama-sama beranjak dewasa. Tidak menumbuhka sesal diakhir cerita.
Saat ini, aku bersama kotor ini adalah suatu pemandangan yang buruk. Bukan karena warna kecoklatan yang melekat erat pada seragamku, bukan karena tetesan tangis barusan, juga bukan karena pukulan keras yang tepat mengenai kepalaku, namun karena aku lebih terlihat seperti pecundang. Kenapa tak kupukul saja ia? Pikirku dalam hati, ternyata nyaliku tak sebesar omongku yang berbisik. Masih kupertimbangkan kekuatannya yang tak sebanding, yang nantinya hanya akan membuatku lebih terluka.
Kutinggalkan sesaat peraduan ini. Segera aku beranjak dari tempat yang melekatkanku pada berdiri tegak. Sengaja kucari kesepian dibelakang sekolah untuk melepas kecewa. Berbicara pada rumput-rumput, dan menyejukkan hati pada tanah basah yang sedikit berteman. Dan bersandar pada batu besar yang gagah. Mereka seolah bertanya mengapa aku murung? Jawabku dengan sebuah senyum yang bersemangat karena aku masih punya mereka. Dan anggukkan rumput hijau ini juga melepas gundah. Ketika hendak pergi melanjutkan pelajaran hari ini kusempatkan menoreh kebelakang, mereka tetap setia ditempat itu untuk mendengar ceritaku selanjutnya.
Jam sudah menunjukkan pada pukul 12 tepat, sekarang saatnya menyudahi kegiatanku ditempat yang tidak bersahabat ini. Berhenti melihat wajah penindas-penindas tersebut, Dengan cepat aku beranjak dan pulang menuju rumah. Melewati waktu tanpa rasa takut dan tekanan.
Pagi ini terlihat sama, bersama dingin yang mengantarkanku pergi kesekolah dan juga tanda tanya tentang apa yang akan terjadi nantinya. Tepat saja, sengaja kuhindarkan diriku di persimpangan jalan, kulihat Davis bersama komplotannya yang menjijikan. Kujauhkan jarak untuk mencari rasa aman, namun yang terjadi sebaliknya, sial…! hal ini semakin memancing kebrutalan mereka. “Kemari kau…!!!” Teriak bocah-bocah kurang ajar ini mendekat kearahku. Sebuah sambutan cekikan yang menyesakkan dada sembari melepaskan pukulan keras tepat diwajahku menjadi pelajaran dipagi ini. Di tambah lagi sifat penjajah mereka yang memaksa untuk mengambil semua uang yang kumiliki. Hal ini selalu saja terulang, aku yang selama ini hanya menjadi tawa dan olokkan-olokkan mereka sudah tidak sabar. Namun bocah lemah seperti aku bisa berbuat apa? Jemariku yang tak pernah kuat untuk memukul hanya bisa memegang permen sebagai penghilang rasa kesal. Teriakku rintih hanya bisa berucap “lepaskan…lepaskan…” dan sampai mereka mendapatkan semua recehan yang kumiliki baru aku terlepas dari kebrutalan ini. Sangat tidak berkemanusian… “apa kita memang tidak berteman?” Tanyaku, “Ha…ha…” gelak tawa mereka, seraya pergi meninggalkanku yang merasa terluka.
Kulanjutkan perjalananku dengan sebuah luka memar pada pipi kiri, dan harta yang habis dirampas oleh mereka, harapku hanya bertemu rumput dan batu tempat ku bersandar. Teman-teman yang benar ada dan setia mendengarkan ceritaku. Seperti biasa, aduanku yang selalu disambut meriah dibelakang sekolah adalah harapanku untuk tetap tersenyum. Namun saat aku hendak berjalan kesana, Davis dan semua teman-temannya sedang asik merusak tempat itu, menginjak-injak rumput hijau, dan memukul keras batu tempat ku bersandar hinga pecah. Tempat itu terliha menderita, aku tersentak melihat tingkah mereka. Tatap mata tajam mereka seolah menakut-nakutiku sudah tak menurunkan nyaliku. Dendam yang sejak dahulu tumbuh subur harus di bayar mereka sekarang. Kugerakkan jemariku yang lemah dan lebih suka memegang permen ini. Seraya menggenggam erat sebuah balok yang kudapat ditempat itu, aku membabi buta memukul mereka semua, tak sadarku melihat cercah darah dan luka pada tubuh mereka. Suara lantang yang suka berteriak keras ditelingaku sekarang terdengar menjadi tangis ampun. Ini bukan karena mereka menyakitiku, namun lebih kepada penderitaan rumput dan batu yang setia mendengar aduanku. Dan juga arti teman yang saling merasakan. Hingga semua tak berdaya dan aku pergi dengan dendam yang terjawab.***



Rabu, 03 Juni 2009

Saksi Rumput Kering

Bagaimana aku harus pergi, harapku datang sebuah keajaiban saat ini, tapi belum juga, namun setelah lama menanti akhirnya mereka datang juga, para tukang sapu jalanan yang terlihat gagah dengan senjata mereka, walau seragamnya tak semegah seragam prajurit kerajaan, juga tak kebal dan terbuat dari besi, mereka adalah pahlawan-pahlawanku"


Dalam cercahan pinggir jalan yang hiruk pikuk aku harus bertarung dengan tamparan debu-debu liar, bisingnya kenderaan bermotor yang berlalulalang sangat membuat tak nyaman tempat ini. Yang lebih menyiksa dan melelahkan adalah dimana aku harus berdiri tegak menantang hari yang tak pernah bosan memberi tekanan disetiap detik panasanya. Mereka orang-orang yang sibuk beraktifitas ditempat ini tampak saling sikut-sikutan dan tonjok-tonjokan hanya untuk mencari sesuap nasi. Ada yang berteriak-teriak, ada yang diam menungu, ada yang mondar-mandir, dan ada yang jongkok. Jauh dari kata nyaman dan idaman. Yang terdengar hanya mencari makan…dan mencari makan… sementara aku yang sudah sejak tadi kehausan, dan tak berpikir lagi tentang rasa lapar dan selalu menjadi acuhan mereka. Dahaga menyiksa karena kering yang terpaksa. Harus bertahan sampai ujung senja.
Dijalan ini, jalan Soedirman namanya, Nama itu adalah cermin perjuangan dari seorang pahlawan yang berperang demi kehidupan bersama, Sebuah pertarungan untuk suatu kemerdekaan tentunya, kemerdekan dengan harapan kesejahteraan. Tapi sekarang, yang tinggal hanya parade panjat pinang dan lomba goni disetiap hari jadinya, juga nama seorang Jendral yang bertarung dengan darahnya yang dijadikan sebagai simbol jalan ini, menjadi saksi kesesakan sudut kota, dan ini tak lebih menjadi leluconku untuk membuyarkan rasa hausku tadi, mengapa tidak, haruskah aku mengikuti emosiku karena ulah botol-botol minuman dingin yang tertata rapi ditoko pak Umar, “tidak!” jawabku, walau botol minuman itu tak lelah tertawa riang menghinaku. Namun yang lebih parah adalah es buah diatas gerobak dayung yang menari-nari dengan kebanggaan rasa asam dalam tiap tetesnya. Ingin kucekik leher ini rasanya, semua terlihat membodohiku seperti sosok makhluk tanpa harapan, apa yang harus kulakukan? Mengadu pada nyanyian pengamen-pengamen cilik yang selalu puas terhadap uang recehan, dan juga harus tersenyum pada orang yang memberi kata maaf karena tidak memberi apa-apa kepada mereka? Kurasa keadaan itu hampir sama buruknya dengan keadaan ku. Tapi kucoba meraih rintikan minuman soda yang dilemparkan dari sebuah mobil mewah yang baru saja melintas, walau perbuatannya juga mengacaukan suasana namun ia sedikit merubah keadaanku sepertinya, belum sempat kutenggak tetesan itu, injakan keras tepat diatas tubuh mungilku harus melumpuhkan badan ini sepertinya, keadaan ini lebih memperburuk suasana tentunya. Mengapa ini harus terjadi padaku? Sampai kapan derita ini berakhir dan mereka menganggapku ada? Lagi-lagi teriakku dijawab dengan keadaan acuh dan tidak perduli.
Sementara kekesalanku yang tak kunjung terjawab, aku seperti mendengar kegaduhan diujung jalan. Ya benar, itu adalah jalanan yang selalu ramai dipadati oleh para pedagang kaki lima, ada apa gerangan? Teriakkan dari tempat itu semakin tedengar jelas, dengan perlahan kujinjitkan tubuh lemah ini untuk melihat apa yang terjadi, setiap celah dari tubuh-tubuh besar ini menjadi ruang pandangku. Masih juga keinginan tahuanku belum terbayar, sampai aku bisa melihat dengan jelas, beberapa orang petugas berseragam lengkap yang bertingkah seperti preman-preman dengan tegasnya menertibkan tempat itu, dengan cara menendang jualan kecil ibu tua yang sedang menggendong anaknya, juga terlihat kakek tua bungkuk yang sedang sibuk merapikan dagangannya yang tak seberapa karena dicampakkan oleh serdadu-serdadu bangsa ini. Muda dan berkekuasaan, namun mengapa terlihat seperti para penjajah pikirku, hatiku semakin kecil dan berontak melihat keadaan ini. Sejak tadi hanya pemandangan keterpurukan disetiap sisinya. Membuatku menyerah dan berserah, letihnya hidup ditengah kota, dan terlalu menyiksa. Masih dengan celotehan-celotehan ringan yang keluar dari mulutku aku harus merasa sesak karena terinjak lagi oleh orang-orang yang tak perduli dengan lingkungan. Dasar kalian, orang-orang yang tak pernah menghargai. Kacau sekali tempat ini, sibuknya petugas pengamanan jalan yang bersergam terlihat seperti koruptor pinggiran. Menangkap kesalahan para penderara untuk uang perdamaian. Kumis tipis dengan ujungnya yang tajam-tajam adalah senjata pamungkas untuk menegakkan keadilan. Kotor dan menjijikan, memaksaku untuk pergi dan angkat kaki.
Wushh… Hampir saja sambaran kenderaan umum yang kebut-kebutan bersama egonya masing-masing menghabisi nyawaku, dengan alasan mencari uang setoran, gaji, dan uang makan sopir-sopir itu menghilangkan kewarasannya dengan cara saling berlomba untuk mendapatkan penumpang. Kurasa orang-orang seperti mereka lebih baik hidup dihutan bisikku dalam, bertarung dengan para binatang buas dalam mencari makan,karena itu cukup membahayakan diri mereka. Sementara perbuatan mereka barusan dapat membahayakan orang-orang disekitar,, dan membuat orang-orang menjadi berdosa karena telah mengutuk mereka dengan umpatan-umpatan kotor yang tak penting. Keganasan tempat ini semakin lama semakin menjadi, dan semakin membuat kebosananku untuk tetap tinggal tumbuh subur. Keputus asaan dan perasaan kecewa, copet-copet yang cekatan hidup sejahtera dan sentausa disini, bersama preman-preman pinggiran yang selalu tertawa saat merima setoran. Dasar penghianat, senang diatas derita orang lain, mengapa tak pernah belajar tentang arti kesusahan mereka, ini malah menyebarkan virus kesengsaraan. Dan bangga karena dosa-dosa.
Semakin lama matahari semakin terik, dan diufuk jalanan semakin panas sepertinya, karena ulah para preman yang harus berakhir dengan pukul-pukulan, merka saling menghancurkan hanya untuk daerah jajahan. Mengandalkan komplotan-komplotan dalam pertarungan, lebih baik gotong royong membangun kemajuan tukasku.
Kakiku terasa lemas saat ini. Bagaimana aku harus pergi, harapku datang sebuah keajaiban saat ini, tapi belum juga, namun setelah lama menanti akhirnya mereka datang juga, para tukang sapu jalanan yang terlihat gagah dengan senjata mereka, walau seragamnya tak semegah seragam prajurit kerajaan, juga tak kebal dan terbuat dari besi, mereka adalah pahlawan-pahlawanku, yang selalu setia menjaga kebersihan dan kenyamanan. Lebih baik mereka dibandingkan pemburu-pemburu ekonomi ditempat ini. Akhirnya aku bisa pergi meninggalkan penatnya jalan ini. Dengan segera mereka mngangkat sampah-sampah yang berserakkan dan mencabut rumput kering seperti aku yang sudah sangat lelah melihat tempat ini. Senyumku puas saat terjun kedalam gerobak sampah. Harapku tak kembali ketempat ini, dan coba hidup tempat lain.***

Senin, 25 Mei 2009

Maaf pak Dosen

“keluarrrrr…” wow… nadanya berapi-api dan benar-benar membunuh. Rasa maluku sudah tak terbendung lagi, anak-anak yang lain hanya bisa menebarkan tawa dan wajah cengir mereka, namun itu bukan masalah bagiku, bagaimana denga Nadhine? Apa tanyaku tentang siapa yang akan mendampingi ku nantinya masih bisa terjawab,

Sudah sejak setengah jam tadi kebosananku berontak dan bergejolak didalam ruang sendu ini, dari setiap hentakan nada tegasnya yang ia lakukan berulang-ulang kurasakan seperti lelucon pria tua bangka dengan tanduk tajam berwarna merah untuk menakut-nakuti kami semua. Ditambah dengan sepasang mata tajam yang bersinar dan bergerak dengan cepat seperti serigala ditengah bulan purnama yang siap memangsa siapa saja. Huh… aku yang dengan sengaja berlabuh dibangku kelas sudut paling belakang juga tak bisa merasa aman karena ulah dosen gila yang satu ini. Namun sosok seram yang diselimuti kumis tipis menukik keatas ini tampak seperti seorang lajang genit jika berhadapan dengan mahasiswi–mahasiswi cantik dan sexy yang menghabiskan puluhan jam didepan kaca sebelum berangkat kekampus. Mengapa tidak, baru saja senyum sumingrahnya seperti seorang yang tidak berdosa mempersilahkan Shasha untuk masuk dan mengikuti pelajaran walaupun ia sudah terlambat setengah jam. Dasar makhluk berponi botak yang tidak menjujunjung keadilan tukasku dalam hati. Andai saja yang terlambat tadi seorang adam, pasti wajah cengir dengan olokkan nya menjadi sarapan pagi orang itu.

Sejak tadi senandungnya yang tak bernada selalu terdengar, dengan lantang ia menyuarakan setiap pelajaran tanpa bosan, disertai semangat perubahan dan menjunjung keamajuan, kecuali kami semua dengan topeng-topeng serius yang terlihat membanggakannya dan mendengar dengan seksama walau khayal terbang entah kemana. Sampai ini bisa terbukti saat kebiasaannya yang dengan spontan mengarahkan ujung telunjuknya kearah satu diantara kami untuk menjawab pertanyaan darinya. Raut wajah mahasiswa yang tadi telihat serius dapat berubah dengan sejenak menjadi keledai karena tak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Hal ini yang tentunya memaksaku untuk menggunakan ilmu menghilang dibalik tubuh teman-teman jika tangannya bergerak dengan telunjuk maut andalan untuk bertanya kepada kami. Dan tak jarang ilmu tersebut dapat berguna dengan baik karena matanya sudah sedikit rabun.

Lalu saat ini merupakan hari yang buruk pastinya, mengapa demikian, Aku dipersulit oleh rasa kantuk akibat keasikan bermain semalam. Dan tidur saat jam pelajaran adalah musuh terbesarnya. Namun ujung kelopak mataku terasa seperti mengangkat beban ratusan kilo saat ini. Benar-benar sangat menyiksa, gaya dudukku yang sudah tidak menggunakan bokong melainkan punggung adalah posisi yang sedikit membantu. Hanya saja seperti kukatakan tadi, bahwa ini sangat tidak nyaman, karena bahaya kapan saja dapat terjadi. Sampai akhirnya ini benar-benar harus terjadi dan akhirnya, Zzzzz…..ttt…ttt…

Tak lama kemudian bel berbunyi, untung saja aku diselamatkan dengan cepat pikirku, namun sekarang tanpa rasa kantuk aku siap untuk keluar dan bermain. Ini adalah hari yang indah sepertinya, didepan kampus aku melihat Nadhine, Huh… Wajah itu, sekilas menjawab pertanyaan siapa yang akan mendampingiku nantinya, Tatapannya yang berbintang-bintang, dengan senyum tipis yang manis, dan juga ramah tamahnya, merupakan idaman setiap pria dikampusku. Hanya saja ada yang tidak masuk akal dengan dirinya, dibalik semua keindahan yang ia punya ayahnya adalah dosenku yang sangat membosankan tadi. Butuh kerja keras untuk memilikinya pikirku. Tapi itu tak akan membuat semangatku surut, kuberanikan diriku untuk berjalan kearahnya agar aku dapat menebarkan pesonaku yang akan memulai perkenalan kami selanjutnya nanti. Benar saja pikirku, gayaku yang sedikit acuh tidak seperti lelaki lainnya yang berusaha unutuk menyapa Nadhine ternyata menarik pandangannya. Ini saat yang tepat pikirku, sesaat itu juga wajahku kuarahkan padanya sehingga menghasilkan kontak mata dengan kekuatan tegangan listrik yang tinggi dalam tubuhku. Huh… aku menghela nafas sebagai bentuk perlawanan dari perasaan grogi ini. Belum sempat perasaan ini hilang kuberanikan diri untuk memperkenalkan diri dan menjelasakan bahwa aku adalah mahasiswa ayahnya, sepertinya baik pikirku, dan ia menjulurkan tangannya seraya berkata “saya Nadhine”. Tanpa hitungan detik rohku terbang saat menyentuh tangan mulusnya, dan aku melihat banyaknya peri-peri dengan panah cinta disekelilingku membuat bunga-bunga bersemi dengan indahnya. Namun saat terbangku yang semakin lama semakin tinggi, aku dikejutkan dengan sebuah sol sepatu yang mendarat tepat diwajahku, dan tawa serta teriakan ricuh didalam kelas membangunkanku. Sial, semua hanya mimpi… bukan bunga-bunga yang bertebaran saat ini sepertinya. Tapi Wajah masam dari dosenku tersebut seperti karangan bunga yang menghantarkan kematianku. Teriakkannya yang menggetarkan jagad raya ini benar-benar jurus yang paling menakutkan. “keluarrrrr…” wow… nadanya berapi-api dan benar-benar membunh. Rasa maluku sudah tak terbendung lagi, anak-anak yang lain hanya bisa menebarkan tawa dan wajah cengir mereka, namun itu bukan masalah bagiku, yang menjadi persoalan adalah bagaimana denga Nadhine? Apa tanyaku tentang siapa yang akan mendampingi ku nantinya masih bisa terjawab, sementara ayahnya sudah acuh dan memendam perasaan dendam yang mendalam karena aku sudah tidur pada jam pelajarannya, huh… kenapa harus mimpi pikirk.***


Jumat, 24 April 2009

Bukan Keluarga Miskin

"Setelah detik yang telah banyak berlalu ntah apa yang membuatku bahagia hari ini, dan bukan mengandalkan khayalku namun aku yakin sesuatu yang baik akan terjadi, ini semakin terasa dekat dan begitu hangat. Bukan karena cahaya matahari yang cerah menembus dinding-dinding tepas tempat kami tinggal, bukan karena kicau burung merdu yang terasa menyejukkan, dan juga bukan karena hujan yang tak jadi datang tadi malam sehingga tak mengguyur tidur kami. Tapi karena..."

Dalam diam ruangan ini aku duduk santai berteman sepi, masih dengan keadaan miskin yang mendarah daging kami menahan lapar yang sungguh diruang tamu. “ha…ha…” tawaku melihat atap rumah kami yang bocor dan perabotan-perabotan busuk yang lelah menunggu warna. Namun jangan orang lain yang menertawai keadaan ini, karna itu adalah luka. Terasa membodohi-bodohi keluargaku yang sungguh sangat bodoh. Karena kemiskinan ini bukan kesalahan namun kebenaran.

Semua berlagak bisu sambil menutupi rasa laparnya masing-masing, bertopengkan perasaan sabar, tanpa kepastian bersembunyi dibalik harapan pulangnya ayah dengan membawa lemak dan rasa pedas. Disisi lain dengan perasaan kesal tentang arti kesederhanaan kakakku mondar-mandir memikirkan sesuatu. Mungkin ini sedikit menyakitkan, tampak wajah putus asanya terbingung karena berpikir keras untuk mencari makanan apa yang bisa dimakan hari ini. Sementara di kursi tua yang sudah terlihat lapuk itu, duduk ibuku yang menutupi derita laparnya dengan sulaman benang dikedua tangannya. Dan tumpukan kain-kain sulaman diatas meja tua itu adalah saksi dari ketidak berdayaannya yang lemah dan sakit-sakitan. Ini adalah kebanggan buatku tentunya, karena setiap cercah yang membalut tubuh kami adalah karya terindahnya, yang ia buat dengan lelahnya. Masih dengan sulaman yang akrab dikedua tangannya, kali ini sengaja diperbuat untuk menyibukkan dan memecahkan konsentrasinya tentang keadaan ini. Satu hal yang mengiris tajam perasaanku detik ini adalah mendengar adik kecilku yang merintih pelan “bu aku lapar”.

Namun ini bukanlah kelurga miskin tersebut. Keluarga ini hanya bertarung dipenatnya kota perantauan yang tak pernah bosan menjanjikan kesejahteraan. Hanya saja janji-janji itu seperti ruang kosong tempat berkumpulnya khayalan. Yang hanya terlihat dalam angan dan tak tersentuh, dan sebenarnya tak pernah ada. Walau sebenarnya keraguan tentang derita ini sudah lama terdengar dan tercium namun motivasi perubahan lebih kuat bertarug dan mengalahkan semua. Walau sekarang yang tersisa hanya derita dan sengsara yang terus memaksa untuk menyerah.

Kulangkahkan kakiku kedepan pintu gubuk tua ini untuk melihat secercah cahaya. Namun hanya hangatnya yang menyambutku ramah dan indah. Tapi bukan itu yang kucari, bersama sisa-sisa kekuatan yang ada setelah menahan lapar seharian aku masih belum melihat secercah harapan. Lagi-lagi kecewa merana dalam diriku karena ayah belum juga pulang. Aku kembali masuk dan duduk lemas didalam rumah. Belum sempat aku melepas kesal diduduk sandarku pada sebuah kursi, rintihan itu terdengar lagi dan meluluhlantakan perasaanku sekejap “bu, aku lapar!” dengan nada yang parau dan letih karena berusia ibu menjawab “sebentar lagi nak”. Suatu harapan yang tak bertuan pikirku… Kakakku yang sudah tidak bersabar dengan keadaan ini segera pergi kedapur, Huh… hanya tungkuan api yang kotor dan berabu yang menghiasi tempat ini. Untuk mengurangi rasa lapar dia mengambil segelas air dan meminumnya. Namun rasa dingin yang menyentuh isi perutnya membuat ia menjadi tak nyaman. Dengan segera ia menuju tebaran tikar untuk berbaring dan mengadu tentang keadaan tersebut. Tanpa lelah dan kepastian ayahku yang sudah pergi bekerja sejak pagi tadi menjadi satu-satunya harapan untuk melepas lapar kami hari ini. Ayahku adalah seorang pemulung terhebat dijagad ini, seorangnya bekerja untuk menghidupi kami. Bekerja pagi hari untuk makan siang, dan bekerja siang hari untuk makan malam. begitulah seterusnya. Kami anak-anaknya masih kecil-kecil, kakakku baru berusia enam tahun dan adikku usianya masih dua setengah tahun. Sementara diantara mereka adalah aku yang tidak pernah memikirkan usia dan hanya berkemampuan khayal dan impian.

Tak lama kemudian, dipangkuan ibu, adikku tersebut tertidur karena bosan menahan semuanya. Ibu yang menjaga kami seharian adalah perempuan lemah, sudah menjadi hal yang biasa jika ia menjadi aduan atas penderitaan kami anak-anaknya. Namun iapun sangat menderita dengan keadaannya. Sakit-sakitan dan rentan perasaan.

Semua masih dalam keadaan yang sama, berhiaskan kemiskinan dengan nyanyian lapar sebagai penghangat suasana. Menunggu jawaban atas semua keadaan aku masih terus berharap cemas, dimana aku sudah merasa bosan untuk duduk diam menatap lantai tanah diruangan ini. Namun ada panggilan dibalik pandanganku yang terus berkata untuk tetap duduk diam dan jangan pergi. Seperti khayal yang berbicara lantang ketelingaku aku sedikit mempercayainya.

Setelah detik yang telah banyak berlalu ntah apa yang membuatku bahagia hari ini, dan bukan mengandalkan khayalku namun aku yakin sesuatu yang baik akan terjadi, ini semakin terasa dekat dan begitu hangat. Bukan karena cahaya matahari yang cerah menembus dinding-dinding tepas tempat kami tinggal, bukan karena kicau burung merdu yang terasa menyejukkan, dan juga bukan karena hujan yang tak jadi datang tadi malam sehingga tak mengguyur tidur kami. Tapi karena saat aku berpaling kearah pintu aku melihat ayah pulang membawa beberapa nasi bungkus sebagai penghenti lapar hari ini. Sedikit lemak dan rasa pedas yang membasuh bibirku. Menghilangkan rintihan adik kecilku yang merasa lapar sejak tadi, dan menyentuh isi perut kakakku yang terbangun dari tidurnya yang tak nyaman. Namun satu hal yang terhebat ialah memberikan tenaga baru buat ibuku dapat kembali menyulam kain. “ha…ha…” tawaku karena kemiskinan yang mendarah daging ini.***



Senin, 20 April 2009

Dibalik Pelangi

"Seperti ketakutan yang lebih ia takutkan dari sebelumnya membuat khayalnya terbang sesaat ketika ia melakukan perjalanan pulang tadi. Seorang ibu yang merelakan laparnya hilang hanya dengan melihat wajahnya telah disakiti dengan perbuatan yang tak seharusnya. Sekarang hanya tinggal Chika bersama kekecewaan dan rasa angkuhnya yang sudah beku ditelan pahitnya keadaan"

Namanya Chika, tubuhnya mungil dengan lapisan kulit yang putih bersih, Hidup ditengah-tengah keluarga yang serba ada, mewah, dan disayangi telah menempah dirinya menjadi orang yang angkuh dan manja. Namun tak hanya itu, ia juga dikenal tinggi hati, hal ini disebabkan karena hatinya yang sudah diselimuti harta sejak kecil, sehingga ia tidak pernah merasakan kedinginan karena lapar dan lelahnya menjalani kehidupan untuk memenuhi lautan sejengkal, ntah dari mana ia belajar mengenai paham anti orang miskin, yang selalu dipegang dan sangat dipedomaninya. Baginya kotor dan bau adalah musuh abadi yang bisa menyengsarakannya. Sekalipun demikian, segala sifat negative yang ada pada dirinya tidaklah menjadikannya seorang yang tenggelam dalam buaian-buaian istilah buruk, karena ketakutannya terhadap hal-hal yang dapat menyengsarakannya itu menjadikan ia seseorang yang giat belajar dan pintar , ada anggapan dalam dirnya dengan cara tersebut ia dapat memerangi musuh abadinya itu.

Disiang yang hening dengan terang dari panas matahari semua berlaku seperti biasanya, terlihat beberapa orang pemulung tertawa bahagia dengan barang bekas yang ditinting dipundaknya masing-masing, sehingga hal ini menambah berat langkah mereka menyusuri jalan-jalan dipinggiran kota. Wajah puas dengan simbol kekayaan sebuah karung yang akan habis untuk sekali makan hari ini tak dapat mereka tutupi diantara lalulalang debu yang menari. Kecuali satu orang pemulung wanita paruh baya yang tidak menyibukkan dirinya dengan pencarian barang bekas dipersimpangan jalan tersebut. Seperti kehilangan sesuatu, wajahnya tampak sama dengan hari-hari sebelumnya. Dirinya hanya menyisiri setiap orang yang berlalu-lalang ditempat itu, ada raut wajah yang lebih berharga dari sekedar mencari makanan untuk hari ini. Mengorbankan detik waktunya untuk pekerjan yang tidak terpikir hasilnya. Namun sampai lelah mengusai keadan hanya wajah kecewa yang didapatnya karena tidak menemukan apa yang di cari. Hingga esok harinya ia masih juga melakukan hal yang sama, menyisiri raut muka ditempat yang sama dan keadaan yang sama, hanya awan yang sedikit malas memberi ruang untuk untuk sinar matahari yang dari tadi sibuk ingin menyentuh bumi. Langit sedikit gelap, namun hal itu yang sepertinya berlawanan dengan wajah perempuan tua ini yang bisa tersenyum sesaat. Benar saja, Hanya sepercik senyuman yang tergambar jelas diwajahnya setelah melihat Chika berjalan acuh menghampiri tempat itu, ini adalah jalan yang biasa ia lewati dalam perjalanannya menuju kekampus. Untuk suatu keadaan sekejap mata yang tidak terpahami ini, perempuan tersebut merelakan berdiri di persimpangan itu melawan perjalanan waktu yang terus berputar. Masih menjadi khayal yang memilukan antara Chika dan pemulung itu, seperti kubangan lumpur dengan sebuah mata air. Namun semua sudah berlalu dan sampai Chika menyentuhkan kakinya diareal kampus, perempuan itu sudah berlalu jauh.

Sikap seorang Chika yang terlebur dalam prinsip hidup kemewahan sangat menjulang tinggi namanya dikampus sebagai orang yang arogan. Berteman dengan seseorang teman saja karena latar belakang sosial mereka yang sama dan berkemewahan seimbang membuatnya seperti putri dingin tanpa warna. Ditambah lagi karena ia dilengkapi kepintaran yang juga mencolok hal ini sangat menyempurnakan seorang Chika. Keheningan suasana kampus saat belajar adalah kesukaannya, sampai pembelajaran kampus usai masih saja wajah keseriusan yang terlukis diwajahnya. Dan ia disadarkan oleh ricuhnya ruang kelas seperti irama tanpa nada yang menyuarakan kegirangan setelah perkuliahan usai. Rasa puas Chika setelah mengantongi segenggam ilmu siap mengantarkan ia pulang berkumpul kembali bersama kedua orangtuanya. Sangat pantas menyebutnya sebagai seorang yang unggul karena semua kategori kehidupan layak ada pada diri Chika. Hanya saja hal ini ternodai oleh sikap angkuh Chika. Namun inilah Chika perempuan beratap putih bersih dengan lantai yang kotor.

Setelah semua perkuliahan usai seluruh pelajar dikampus ini membubarkan diri mereka, Termasuk diantaranya adalah Chika yang asik berjalan sambil bercakap-cakap bersama seorang temannya tadi. Ruangan itu sejenak menjadi sepi, Chika sudah berjalan keluar areal kampus untuk segera menuju rumahnya. Namun ada yang sama ketika ia datang sampai ia pulang dipersimpanagn itu. Seorang pemulung permpuan paruh baya itu masih berdiri di tempat yang sama. Tatapan mata Chika yang tajam kearah perempuan itu berbalas menjadi respon senyum dari pemulung dekil kearah Chika. Namun hal ini yang menjadi dasar ketakutannya, hingga tatapan mata mereka berdua yang bertemu disatu titik menjadikan Chika berjalan dengan tidak memperhatikan jalannya. Dan karena kecerobohan yang menerkam Chika, membuatnya terperosok kedalam selokkan. Dalam sekejap rasa takut perempuan angkuh itu berubah menjadi kemarahan yang tak terkendali. Wanita kumuh tersebut dengan rasa ibanya mendekati Chika dan menjulurkan tangannya untuk menolong Chika. Namun apa yang didapatnya, pemulung itu menjadi sasaran kemarahan Chika karena ia dianggap sebagai penyebab celaka yang didapatnya. Kemarahan Chika tak terkendali, segala hujatan serta makian ia lontarkan kearahnya. Hingga perkataan yang sangat menyakiti perempuan itu membuatnya terpaku dengan hati yang terluka, sapaan senyum yang biasa ia lontarkan kearah Chika ia perbuat hanya untuk mendapatkan balas senyum dari Chika. Namun saat ini apa yang didapatnaya, perasaan bersalah dengan luka mendalam sebagai seseorang yang bernaluri keibuan membuatnya segera pergi meninggalkan tempat itu. Hanya isak tangis diwajahnya yang mengantarkan kepergian pemulung ini untuk pergi menjauh dan tak akan kembali ketempat tersebut.

Sampai di peraduannya dengan keadaan kotor dan bau membuat wajah Chika kesal saat tiba dirumah. Rasa kesal itu semakin mendalam karena ditambah dengan warna pertengkaran yang tidak biasanya terjadi dirumah Chika. Pertengkaran antara kedua orangtuanya tidak pernah ia duga, Hal ini membuatnya Spontan terkejut, karena pertengkaran yang terjadi itu disebabkan oleh kedua orangtuanya saling menyalahkan karena sampai saat ini tidak memiliki keturunan. Hati Chika luluh lantak ketika mendengar ucapan ibunya yang mengatakan kalau Chika adalah anak seorang pemulung yang diangkat oleh mereka. Seperti ketakutan yang lebih ia takutkan dari sebelumnya membuat khayalnya terbang sesaat ketika ia melakukan perjalanan pulang tadi. Seorang ibu yang merelakan laparnya hilang hanya dengan melihat wajahnya telah disakiti dengan perbuatan yang tak seharusnya. Sekarang hanya tinggal Chika bersama kekecewaan dan rasa angkuhnya yang sudah beku ditelan pahitnya keadaan. Dengan harapan dapat merubah semuanya menjadikan ia seorang pemurung yang lelah dengan kesalahan.***


Doa ibu

"Berat dan terasa sangat berat, ini masih belum terjawab. Dan setelah bertarung dengan gejolak kesadaran secara perlahan aku kembali membuka mataku. Setelah kedua mataku terbuka dan aku tersadar penuh karena genggaman erat tangan ibu dengan lantunan doa yang menyebut namaku terdengar jelas. Kulihat sekeliling yang membuatku mengangis dan meneteskan air mata sebagai tanda bersalah"

“Woy! pelankan musik itu…”

teriakkanku lenyap dalam kebisingan pesta yang kacau ini. Mereka yang berpesta adalah kumpulan brandalan kota yang sangat sarat dengan kebrutalan, termasuk aku diantaranya merupakan orang-orang yang sudah terbiasa dalam suasana acuh tanpa memikirkan orang disekitar. Besar di pusat kota adalah kesalahan terbesar buatku. Karena mental yang tidak dapat berdiri dengan tegak membuatku dengan ringannya terbawa arus modernisasi yang merayap dalam setiap pergaulan anak-anak muda seperti aku. Ditemani sebotol minuman beralkohol yang kugenggam erat ditangan kiriku kucoba untuk berteriak sekali lagi “pelankan musik itu…” namun hasilnya masih sama saja, keacuhan benar-benar merajai suasana. Wajar saja dari tadi aku coba berteriak agar musik itu dikecilkan, karena dering telepon genggamku yang sudah berulang kali berbunyi karena panggilan dari ibu dirumah. Ia pasti cemas tentunya karena sampai larut malam ini aku belum pulang kerumah. Dalam kesadaranku yang tinggi aku coba melangkahkan kaki untuk menjauhkan diri dari kekacauan ini. Sampai alunan musik dengan bit drum yang cepat tersebut sudah tak terdengar lagi, lalu keberanikan diri untuk mengangkat telepon dari ibu. “Mama aku masih dijalan sebentar lagi pulang” ini adalah alasan klasik yang biasa kugunakan ututk menjawab teleponnya setiap malam. Namun hembusan nafas lega atas kegelisahannya tadi adalah buah dari kebohongan seorang brandalan sepertiku. Perbuatanku seperti meletakkan noda di atas kertas, yang bukan hanya mengotori kertas tersebut namun juga menyengsarakan penulisnya. Melupakan sejenak kebohongan tersebut aku kembali menikmati pesta sambil menikmati alunan musik melodic dengan dansa persaudaraan atau disebut dengan pow go oleh komunitas punk lokal di kota ini. Semua ini adalah hal yang biasa kulakukan setiap hari diakhir pekan selain berkumpul bersama teman-teman pada hari-hari biasa. Karena pengertian dari idealisme jalanan yang kutau dari mereka telah memikat diriku tentang arti kebebasan. Setelah paham tersebut menguasaiku, hanya sejenak waktu yang kusisakan buat ibu dan adikku dirumah. Dan setelah semua terlewati keadaan ini meninggalkanku pada perasaan menyesal atas semuanya. Namun biarlah kesalahan mengajarkanku pada jalan kebenaran dan mengerti arti dari kebersamaan yang sebenarnya.

Namaku Dave, dahulu aku adalah anak yang pintar dan berprestasi. Aku tinggal bersama ibu dan adiku. Sekarang aku tidak tau ayahku ada dimana, permasalahan yang setiap hari terjadi membuat mereka lemah dan tak sanggup mempertahankan keluarga ini. Kami pindah kekota ini setelah mereka resmi bercerai. Bukan hanya suasana baru yang kudapat setelah mereka bercerai, kehidupanku berubah secara total karena perceraian mereka yang menghantuiku dihari-hari selanjutnya. Mulai tidak membatasi pergaulan maka aku dihantarkan pada kebrutalan. Tentang arti kebrutalan yang aku tidak mengerti tujuannya, namun dengan tidak memikirkan tentang tujuan, ternyata hal tersebut justru membuatku merasa lebih tenang dan bisa mngurangi dukaku atas perceraian ayah dan ibu. Semua lebih terkendali, tanpa tekanan dan paksaan. Hanya saja aku tetap percaya kalau suatu saat hal tersebut akan menghantarkanku pada kesengsaraan. Ini adalah petikan dari arti kehidupanyang tak lelah berputar tentang arti benar dan salah yang hanya bisa tertawa sebelum terluka. Dan sekarang dengan sombongnya aku tetap berdansa diantara hentakan drum satu dua dan teriakkan “oi…oi…” dalam ruangan bergema.

Setelah lelah dan alkohol yang sudah tak tersisa lagi saatnya aku memberikan sisa waktuku yang sedikit untuk ibu dan adik dirumah. Pesta telah berakhir, dan malam sudah melewati batas kata. Kepala miring dengan angan berayun diotakku adalah oleh-oleh yang akan kubawa pulang untuk mengantarkanku pada tidur malam ini.

Hentakkan lelah dalam langkah menuju rumah tak dapat kusembunyikan, dengan bermaksud untuk tidak mengganggu ibu dan adikku yang sedang tidur aku merayap pelan dalam kesunyian suasana rumah tanpa keluarga yang lengkap. Layaknya pencuri malam yang sudah menyiapkan semuanya aku masuk dengan hati-hati dan menuju kekamar untuk beristirahat. Agghhhh… tulangku rasanya seperti remuk terpecah-pecah. Hanya tempat tidur ini yang menjadi canduku dari setiap aktifitas bodoh seharian tadi. Namun berat mataku yang dengan sengaja kupejamkan tak juga mengantarkanku pada tidur yang nyenyak, dengan harapan bangun dipagi hari yang penuh segar, aku masih belum bisa beristirahat sampai detik ini. Berat dan terasa sangat berat, ini masih belum terjawab. Dan setelah bertarung dengan gejolak kesadaran secara perlahan aku kembali membuka mataku. Setelah kedua mataku terbuka dan aku tersadar penuh ada keanehan yang kurasakan, hal ini dikarenakan genggaman erat tangan ibu dengan lantunan doa yang menyebut namaku terdengar jelas. Tubuhku tak beradaya, setelah semua sedikit terkendali kulihat sekeliling yang membuatku mengangis dan meneteskan air mata sebagai tanda bersalah, kukira aku mengerti mengapa aku berada ditempat ini. Saat ini aku sedang terbaring lemah setelah tersadar dari koma selama empat hari dirumah sakit. Ternyata alkohol yang kuanggap sebagai teman tempat pengaduan telah merampas keshatanku. Hanya pelukkan dari ibu yang sanggup menguatkanku atas kesetiannya menjaga dan merawatku dari aku kecil hingga saat ini. Kebiasaan buruk dengan paham kebebasan tersebut sudah mengantarkanku pada kesalahan yang tak seharusnya kulakukan. Penyakit yang bukan hanya aku saja yang merasakanya, tapi orang-orang yang membagi ruang hatinya untuk selalu sayang terhadapku. Ibu dan adikku adalah paham yang sebenarnya harus kumengerti.

Hal Ini mengajarkan diriku tentang arti diri untuk siapa kita ada dan untuk siapa mereka ada. Semua kututup dengan tangis dan rasa bersalah sebagai noda yang mengotori kertas putihku. Dan sekarang sampai kedepannya kucoba untuk menulis rangkaian puisi diatasnya unutk mengganti keindahannya.***


Kisah Racheli

“Sama seperti diriku yang membabi buta mengerakkan tubuh dan terus berlari. Namun kecerobohan membuat aku terpelosok pada lubang berjaring kawat ditikungan yang pertama. Merobekkan tubuh dan berlumuran darah. Rupaku menjadi tidak karuan, terasa sakit disekujur tubuh ini. Dan hanya wajah Racheli kiri yang terngiang dalam benakku”

“Agghh..hh..h..” Inilah aduanku pada pagi yang datang setelah usai mengusir malam, Dia terlihat ceria bersama kicauan burung yang bernyanyi riang tanpa nada fals sedikitpun menyambut kehadirannya. Hanya saja bagiku kedatangannya sedikit membosankan, aku masih merasa letih diatas tempat tidurku dengan bantal yang berlemak sebagai sandaran. Ugghhh… ini sangat mengganggu, namun segera kusingkirkan kenikmatan ini yang hanya mengantarku pada pembodohan dan takkan memberi hasil. Walau masih terasa dingin, ngantuk, dan lelah setelah melakukan perjalanan yang jauh semalam. Segera kugerakkan tubuhku dari tempat ini dan mempersiapkan diri untuk memulai hari ini. Maklumlah, semalam aku mengikuti lomba gerak jalan yang diadakan oleh pihak sekolah, jaraknya lumayan jauh dan berliku-liku, dan juga sangat membahayakan, karena banyak sekali bebatuan yang curam dan dalam. Tapi untung saja Racheli kiri tanpa bosan menemani dan mengingatkanku untuk selalu berhati-hati dalam perjalanan. Ia selalu tersenyum dan memberi semangat padaku walau kutau kalau ia pun sangat lelah dalam perjalanan semalam. Racheli kiri adalah yang terbaik dalam cerita tentang hidupku, dan aku sangat mencintainya, tanpanya aku bukanlah apa-apa dan tak akan berguna, karena aku yakin kalau ia tercipta hanya untukku. “Huh…” semoga kami akan selalu bersama selamanya, dan takkan kubiarkan sesuatu memisahkan cinta putih ini.

Pagi ini terlihat berbeda dengan sebelumnya, tanpa sesuatu yang berbau menyengat hidungku. Membuat aliran pernapasanku berkelahi dengan aroma-aroma tidak sedap dari kaus kaki yang berwarna coklat pudar yang kotor dan berumur. Karena sepertinya aku akan menggunakan kaus kaki putih bersih yang masih baru dan sedikit bermode. Kaus kaki ini sangat segar seperti daging-daging dipasar yang akan dijual. “hehe..” terlalu berlebihan sepertinya. Ini akan menjadi semangat yang baru di pagi yang indah dan cerah dalam perjalanan ku ke sekolah. Namun sebenarnya aku tau kalau hari ini akan sangat melelahkan karena ada jam olahraga dengan praktek lari jarak jauh. Tapi teriakku dalam hati “yooo….yoooy…yooo” karena tentunya ada perempuan putihku yang akan menemani selalu.

Selesai sarapan pagi, dengan segera aku melakukan perjalanan menuju sekolahku yang letaknya tidak jauh dari rumah. Selama perjalanan Racheli kiri bersamaku, tanyaku padanya “bagaimana kabarmu manis? Masih letih?”, dia tersenyum dan mengatakan “denganmu aku tak mengenal kata lelah”. Sepertinya cinta ini berjalan lurus dan bersih seperti perjalanan ini. Semangat 45… yehhh! Canda tawa yang menengahi perbincanganku dengannya selalu menemani perjalanan ini, hingga menciptakan ketidaksadaran kalau kami sudah tiba disekolah. Sudah banyak teman-teman yang datang ditempat ini, seperti sibuk dengan aktifitasnya masing-masing mereka berlalu lalang dan berkejar-kejaran. Aku beristirahat sejenak, dan kesejanakan itu menghantarkan pada bel sekolah yang berbunyi. Seperti materi yang sudah dipelajari mengenai kedisiplinan, maka secara beraturan semuanya masuk kekelas untuk mengikuti pelajaran disekolah hari ini. Masih terlihat wajah Racheli kiri yang selalu tersenyum manis dalam mengikuti pelajaran yang disampaikan bu guru, dan aku baru menyadari bahwa ini adalah senyum terakhir yang akan kulihat dari wajah manja gadis yang pertama kali hadir dari hidupku.

Jarum jam tampak bosan mengitari bundaran angka yang ada disekitarnya, keadan itu sama persis seperti kebosananku mengikuti pelajaran yang diberikan bu Icha, dia adalah guru bahasa inggris yang namanya sudah terdengar dijagad lingkungan sekolah sebagai guru berkarakter militer, ia dikenal sangat kejam dan tidak bersahabat. Entah mengapa selalu tersebar isu dibibir anak-anak sekolahan bahwa ia adalah orang yang kurang mendapatkan kasih sayang. Sehingga ia tak mengerti arti dari kasih sayang dan tak dapat memberikan kasih sayang tentunya buat kami semua Hal ini dikarenakan stastusnya adalah seorang perawan tua yang sudah tidak menjadi rahasia umum lagi. Kebosananku bukan tanpa alasan, aku hanya tidak pernah mengerti mengenai bahasa yang diucapkan mulai dari awal sampai usai pelajarannya. Peraturan undang-undang yang dibuat pada jam pelajarannya untuk selalu menggunakan bahasa inggris dalam situasi apapun menjadikanku makhluk asing yang tidak mengenal bangsa ini. Namun kesalku terobati oleh teriakkan bel yang dibunyikan oleh pihak sekolah sebagai kebijakan untuk menyudahai jam pelajaran pertama. Ia terlihat seperti petarung yang membasmi musuh yang ada dihadapanku saat ini, dan dengan jurus yang sudah dipelajarinya selama bertahun-tahun kekuatannya dapat mengusir bu Icha dari hadapanku. “Ha..ha..” tawa lega melepas khayal yang bodoh diotakku.

Saatnya tiba, wajah bosan dari jarum jam sudah berdiri tegak di angka 9.00 tepat. Saatnya memasuki pelajaran olah raga. Mungkin karena nilai delapan yang selalu kudapat dari pelajaran olah raga membuatku menjadi orang yang sangat trempramental dalam hal ini. Dan tentunya dengan satualasan lagi yaitu aksi kauskaki baru ini akan segera kupertontonkan dihadapan mereka. “He..he…” anak-anak sudah berkumpul dilapangan, semua berbaris rapi dengan instruksi dari pak guru yang akan memulai praktek lari jarak jauh nanti. Setelah selesai semua dibubarkan untuk mengambil pemanasan, Selalu saja sama seperti hari-hari sebelumnya. Semua menunjukkan kebolehannya masing-masing, semua tampak ricuh karena mereka meloncat dengan pendaratan yang kokoh, dan berlari ditempat dengan jurus tanpa bayangan. Tapi aku tidak mau kalah dengan semuanya aku melakukan loncatan yang anggun disertai kauskaki baru yang kugunakan.

Tak lama kemudian pluit tanda lari sudah dibunyikan, semua berlari dengan jalur yang sudah ditetapkan tadi, tanpa memikirkan hal apapun semua berlari sekencang-kencangnya dengan guna menjadi yang yang terbaik dalam parade ini. Sama seperti diriku yang membabi buta mengerakkan tubuh dan terus berlari. Namun kecerobohan membuat aku terpelosok pada lubang berjaring kawat ditikungan yang pertama. Merobekkan tubuhku dan berlumuran darah. Rupaku menjadi tidak karuan, terasa sakit disekujur tubuh ini. Dan hanya wajah Racheli kiri yang terngiang dalam benakku. Terlihat wajah iba nya melihat keadaanku, sekarang aku terlihat bodoh dengan kauskaki berwarna putih yang berlumuran darah. Segera aku dilepaskan dari kauskaki itu, aku sudah robek dan kotor hingga terlihat sangat tidak berguna, dicampakkan dan terbuang jauh bersama tumpukkan sampah kotor tempat ku menguburkan cinta ku dan dirinya. Kesalku terpisah jauh dari Racheli kiri. aku adalah Racheli kanan, sepatu kain yang lemah dan berbau busuk saat ini. Tubuhku yang terluka mewakili perasaan ini yang hancur bersama luka yang membeku karena jauh dari sisinya. Namun semoga Racheli mengerti bahwa cintaku takkan mati di tempat sampah ini. Selalu ada dalam penantian disetiap persimpangan yang selalu kami lewati bersama. Dan ini hanya serpihan hati dari perasaan sepatu butut yang merasa tersakiti karena cintanya terhenti di jalan yang buntu.***


Cerita kuning

"Sesuatu yang aku lahap dipagi tadi telah merubahnya, Suasana kelas yang ricuh dengan tatapan miring dari semua temanku menjadi pelajaran terburuk pagi ini. Sampai aroma tak sedap mulai berlari dan hangat diujung dudukku terasa tidak nyaman aku kembali diterpa tawa oleh mereka. Yang kulihat hanya wajah Clara diam menjauh…"

Untuk sebuah kecerobohan yang tak harusnya kuperbuat, saat ini telah mengakhiri perasaanku selama beberapa waktu. Bersama penantian dibalik kesal membuatku menjadi orang terbodoh yang harus membunuh perasaanku. Dia tak akan pernah tau ada rasa sayang ku di balik pelangi kuning itu. Tempat aku melantunkan setiap kisah yang pernah ada antara aku dan dia, namun sekarang harus terbuang diakhir cerita. Hanya untuk Clara aku tertawa, dan canda tawanya adalah bagian terhebat dari setiap kisah, namun semoga ia mengerti kalau aku akan tetap ada bersama perasaanku.

Namaku adalah Ben, manja, nakal, dan ceroboh adalah bagian terbesar dalam diriku. Aku adalah seorang muda yang berselera tinggi. Tentang makanan, mainan, sampai dengan perasaan. Hanya tinggal bersama kedua orangtuaku menjadikan aku seorang yang selalu bermandikan kasih sayang. Tak pernah bosan aku meminta apa saja kepada mereka, dan semua pasti dipenuhi. Sampai akhirnya ada sesuatu yang tak akan pernah kuminta dari mereka. Karena hal ini memang tak akan pantas jika kuminta kepada mereka.

“mama dimana kaus kakiku” ini adalah teriakkan yang sudah biasa bergema pagi hari dirumahku saat aku hendak pergi bersekolah. Sesaat kemudian kaus kaki itu datang dibawakan oleh mama. Lalu masih dengan mengandalkan sedikit kekuasaanku sebagai anak yang paling disayangi aku meminta agar kauskaki itu juga dipakaikan. Dan sama seperti yang kuucapkan tadi semua yang aku pinta kepada mama selalu dianggap sebagai bentuk curahan kasih sayang terhadap seorang anak yang manja seperti aku. Aku masih muda dan belia, sekarang duduk dikelas empat SD. Dan tentunya wajar kalau permintaanku tadi masih terbilang masuk akal bagi anak seusiaku. Usai menggunakan seragam sekolah dengan segera aku berjalan menuju meja makan, terlihat menantang setiap hidangan sarapan yang terhias diatas meja tersebut. Hal ini tentunya sangat membingungkan karena sifat rakus yang sudah mendarah daging dalam diriku. Sampai aku memakan semua hidangan tersebut tinggal perasaan kenyang dan malas bergerak yang merasukiku saat ini. Inilah diriku, siceroboh yang melakukan segalanya tanpa pertimbangan. Tentu yang menanggung semuanya adalah aku bersama sifat ceroboh tersebut yang akan berbuah penyesalan.

Setelah berhasil mengusir malas yang sempat duduk diam bersamaku, akhirnya kugerakkan tubuh ini yang juga dipengaruhi dengan pemikiran sedikit maju. Aku harus berangkat kesekolah pagi ini, namun tak hanya itu selain pemikiran maju tersebut aku juga diiringi dengan perasaan bersemangat ingin bertemu Clara disekolah. Huh… aku yang bodoh!

Setiap pagi ayah selalu mengantarku kesekolah. Bukan karena jarak sekolahku yang jauh, namun sama seperti yang kuucapkan tadi, kalau aku adalah seorang yang manja dan termanja. Maka menjadi kebutuhan pokok agar aku diantar olehnya setiap hendak pergi kesekolah. Sesaat setelah aku tiba disekolah sudah banyak teman-temanku yang datang ditempat ini. Mereka adalah komunitas pelajar yang sudah siap dengan setumpuk otak sebagai wadah penampung ilmu untuk hari esok sebagai modal menjalani hidupnya masing-masing. Sekarang yang terlihat adalah teman-teman ku tersebut bersama tumpukan otaknya masing-masing yang berlari dengan senangnya sambil bercanda dan bergurau sebagai anak yang berusia 10 tahun. Namun diriku lebih senang tersenyum melihat Clara pagi ini karena ia terlihat segar sekali dengan rambut lurusnya yang masih sedikit basah. Ntah otakku yang lebih cepat besar dibandingkan dengan tubuhku, atau apalah namun aku sudah merasakan cinta yang belum pantas aku rasakan. Bagimana tidak, Clara adalah perempuan termanis dikelasku. Kulitnya yang putih dilengkapi dengan rambut lurusnya, dengan mata yang lentik, serta sepasang lesung menghias cantik pada pipinya. Inilah cintaku, yang terbutakan hanya dengan fisik sempurna dari Clara. Kukira bukan hanya diriku yang dibutakan oleh kecantikkan Clara, karena aku melihat tiga orang teman laki-lakiku yang menyapa Clara dengan senyum berlebihan di pintu masuk sekolah. Seperti harapan tanpa kepastian dari wajah mereka yang ingin merebut Clara dariku, Huh… takkan kubiarkan gadis putihku direbut mereka, tiga orang yang tak pernah pantas bersama Clara.

Dalam keheningan sejenak dibalik khayalku tentang kepemilikkan Clara, aku dihentakkan dengan bunyi bel sekolah yang terdengar membosankan. Ini merupakan pertanda dari awal pembelajaran hari ini. Dan juga ini menjadi alat mengumpulkan seluruh siswa untuk duduk rapi dikelas masing,masing dan memulai pelajaran. Setelah semua pelajar masuk dengan rapi kedalam kelas, maka bu guru memulai pembahasannya. Dan dipagi ini aku yang duduk manis dibelakang Clara, lalu aku berakting seperti konsentrasi terhadap pelajaran yang disampaikan bu guru. Namun ntah apa yang merasukiku, bersama perasaan grogi melihat Clara begitu dekat seperti tak biasa kurasakan sebelumnya. Bukan karena ungkapan perasaan yang sudah kurencanakan sebelumnya untuk mengutarakan isi hatiku padanya siang nanti, dan juga bukan karena tugas dari bu guru yang belum siap aku kerjakan, tapi ntah ketakutan apa yang kurasakan saat ini. Gelisah dengan perasaan ragu yang hebat kurasakan saat aku duduk didekatnya sambil memandang kesempurnaan pada dirinya. Yang lebih parah lagi hal ini menghasilkan keringat dipagi yang masih terbilang segar saat ia memalingkan wajahnya dan mengucapkan selamat pagi kearahku. Sampai akhirnya aku tak bisa merasakan perasaan ini “Breettt…t...t...t...t…” ternyata aku mencret. Sesuatu yang aku lahap dipagi tadi telah merubahnya, Suasana kelas yang ricuh dengan tatapan miring dari semua temanku menjadi pelajaran terburuk pagi ini. Sampai aroma tak sedap mulai berlari dan hangat diujung dudukku terasa tidak nyaman aku kembali diterpa tawa oleh mereka. Yang kulihat hanya wajah Clara diam menjauh dari tempat duduknya menuju kearah bu guru. Sesaat perasaanku hancur bersam diamnya gerak tubuhku, Dengan rasa malu yang tak terkatakan kutinggalkan tempat itu sebagai tanda kebersalahan seorang yang ceroboh. Tapi bayangku masih terpaut dengan wajah Clara dipagi ini, memaksaku untuk membunuh perasaan yang kubiarkan hidup dalam waktu terakhir. Tanpa ungkapan, serta arti dari perasaan. Namun suatu saat Clara harus mengerti bahwa Kuning itu bukan perasaanku.***


Kamis, 16 April 2009

PEJUANG TERLUPAKAN

“Membunuh rasa takut mereka sendiri untuk mempertahankan Sangsaka Merah Putih, Hingga semua dimulai dan berakhir pejuang-pejuang ini sudah mengorbankan canda, tawa, teman, keluarga, dan nyawa. Sampai perundingan selesai yang terdengar adalah teriakkan”

Sore ini terlihat berbeda, langit lebih merah dari biasanya, dengan udara yang tampak malas berbicara hingga lentingan jarum yang terjatuh ketanah dapat terdengar jelas. Namun disudut kota ini hanya ada Sersan Dahlan beserta beberapa prajurit perang yang tertunduk lelah ditemani sebuah senjata perang yang gagah perkasa. Seakan-akan lelahnya berkuasa penuh mengusir semangatnya yang tadi berkobar-kobar sebelum perang ini dimulai. Kibaran merah putih tersenyum sungging melihat kearahnya, Dia adalah sosok pahlawan muda yang bermodal keberanian dengan tubuh renta tanpa pengetahuan berperang. Namun dibalik kerut wajahnya tergambar jelas senyum puas saat menggenggam kemenangan dari peperangan yang berdarah ini. Walau yang tersisa hanya ia sendiri tanpa cerita teman seperjuangan, dan canda tawa mereka. Dibalik tipisnya kemenangan ini ia teteskan air mata untuk mayat-mayat yang berserakkan ditanah. Tubuh sersan Dadang yang tertembus timah panas menjadi pukulan terkeras dihari kemenangan ini. Dia adalah teman yang mengorbankan tubuhnya sebagai benteng dari ancaman perluru yang mengarah pada Sersan Dahlan.

“Namun beberapa jam sebelum semua ini terjadi adalah...”

“…merdeka atau mati…” Selalu saja jargon-jargon ini diteriakkan disegala sisi kota. Teriakkan kokoh dari seluruh pejuang-pejuang ini merupakan suatu suratan yang akan menggetarkan bulu kuduk para penjajah untuk segera angkat kaki dari bumi pertiwi ini. Dan tak pernah terlintas sedikitpun untuk mundur selangkah karena gentar melawan para penjajah, wajah-wajah polos yang dulunya tidak mengenal arti kata perang ini berubah menjadi raut muka yang antagonis untuk menghentikan keterpurukkan bangsa. Menderita dan sengsara, hanya ini kata-kata yang pantas menggambarkan keadaan nusantara saat itu. Layaknya seekor semut yang terinjak pasti akan menggit juga. Hal ini adalah perumpamaan dari sikap yang dilakukan para pejuang-pejuang ini. Merasa terinjak-injak dan terhina membuat mereka berani mengorbankan ketampanan, keluarga, bahkan nyawa untuk suatu misteri kata merdeka. Mereka adalah sersan Dahlan dan sersan Dadang diikuti ratusan pemuda-pemuda yang siap mengorbankan segalanya demi bangsa dan negara. Mengitari jalan-jalan dipinggiran kota dengan strategi yang sudah terencana dan dipersenjatai dengan keberanian. Kedua sersan ini adalah teman kecil yang selalu bersama dalam tiap waktunya. Hingga diujung perang memisahkan tapi mereka selalu berteriak “…merdeka atau mati…”

“Namun beberapa bulan sebelum semua ini terjadi adalah...”

Disudut kota balai desa berkumpul para pemuda melakukan perundingan untuk melakukan penyerangan, termasuk di dalamnya adalah Dahlan dan Dadang, keduanya memiliki pertemanan yang selalu berbagi canda tawa dalam bermain, dalam bekerja, dan dalam peperangan. Mengalir darah militer dalam tubuh mereka setelah tak tahan melihat kehormatan bangsa yang dicela. Dan Dadang selalu berkata “kurang ajar para penjajah itu, kupecahkan nanti gigi mereka”. Jangan giginya jawab dahlan, karena mereka sudah ompong semua. Selalu saja perbincangan yang dihiasi tawa, dan ini adalah suatu kebanggaan yang sangat bernilai dalam sisi pertemanan. Dahlan dan Dadang merupakan motor dalam serangan berdarah ini, Layaknya panglima-panglima perang kerajaan, Dahlan dan Dadang sangat sibuk menyusun strategi untuk serangan yang bertujuan mempertahankan martabat bangsa. Dan angkat senjata merupakan satu-satunya keputusan untuk meraih kesejahteraan sebagai kado yang sangat berharga bagi generasi bangsa selanjutnya. Sejak keputusan perang berkumandang semua pemuda ini menjadi prajurit perang yang berdarah biru. Membunuh rasa takut mereka sendiri untuk mempertahankan Sangsaka Merah Putih, Hingga semua dimulai dan berakhir pejuang-pejuang ini sudah mengorbankan canda, tawa, teman, keluarga, dan nyawa. Sampai perundingan selesai yang terdengar adalah teriakkan “…merdeka atau mati…”

“Namun beberapa tahun sebelum perundingan ini terjadi adalah...”

Tersebutlah nama Dahlan dan Dadang merupakan kuli Kontrak yang menderita sengsara di perantauannya. Berharap merubah arah kehidupan menjadi lebih baik dengan percaya pada iming-iming pemerintah kolonial yang akan mensejahterakan mereka. Namun busuknya pemikiran kaum penjajah membawa dua orang sahabat ini pada kehidupan menderita yang berkepanjangan. Dan yang tersisa hanya janji-janji kehidupan sejahtera dalam khayal disetiap tidur malam yang melelahkan karena bekerja seharian, tanpa gaji, dan kehidupan yang layak untuk menjalani hari-harinya. Dan ketidak adilan ini akhirnya mengantarkan mereka pada jalan pemikiran untuk melakukan perlawanan. Dahlan dan Dadang mengumpulkan sisa-sisa kekuatan pribumi dari segala penjuru. Membentuk angkatan perang seadanya disela-sela keterpurukkan keadaan. Namun kesamaan nasib dan latar belakang sosial membuat kekuatan besar yang benar-benar dapat mengusir para penjajah itu. Pejuang-pejuang ini dengan keberaniannya menjadi ujung tombak dari perubahan yang berpihak pada bangsa ini. Dahlan dan Dadang sangat tepat kehadirannya ditengah ketidak puasan rakyat terhadap para pemimpin-peminpin di zaman itu. Namun namanya telah pudar disaat semua menikmati nikmatnya kemerdekaan. Karena semua cerita perjuangan yang terjadi berpuluh-puluh tahun sebelumnya sekarang ini hanya tertinggal dalam benak seorang veteran yang terlupakan.

Menjadi khayalan saat menikmati pahitnya secangkir kopi depan dirumah yang tak berpekarangan. Kini ia tinggal digubuk tua bersama kebanggan perang di zamannya. Dia adalah sersan Dahlan yang tubuhnya kini renta dan berurat terbakar matahari. Sersan Dahlan juga sosok pejuang yang terasingkan di pinggir kota bersama bualan-bualan sejahtera terdahunya. Mengorbankan segalanya tanpa perhitungan balas jasa. Hanya menikmati percikkan dari kerja kerasnya. Tapi tersenyum bangga untuk semua ceritanya. Dan sekarang ditengah krisis pemerintahan yang semakin dewasa namanya hanya menjadi saksi bisu dari merah dan putih sang saka.***


Jumat, 10 April 2009

SEMUT-SEMUT DI ATAS TOPLES

"Rios pergi jauh kenegri perasingan yang aku tak tahu itu dimana, dan mungkin ia takkan kembali lagi. Terjawab sudah kekecewaanku yang paling kutakutkan dan menghantarkanku pada kesendirian yang mendalam dilorong sunyi bawah tanah.
Rios, adikku yang muda dan jenaka meninggalkan kesedihan yang disudut ruang kosong hampa tanpa tanda tanya. Semoga ia bisa tertawa tanpa cinta keluarga dan bertahan diluar sana"


Keluargaku adalah makhluk pekerja yang sangat bersemangat dengan segala perubahan. Disiplin dan giat bekerja adalah watak yang mendarah daging dalam diri kami, dan perlu disadari bukan karena didikannya yang bersifat militer namun lebih kepada jati diri yang sebenarnya untuk melangsungkan kehidupan didunia yang selalu melangkah dan berubah arah.

Namaku Carlos, anak tertua dari keluargaku. Sebagai anak yang pertama kali ada sebelum adikku, tanggung jawab benar-benar terletak diatas pundakku untuk selalu melindunginya. Ayahku pernah berpesan “ orang yang kuat adalah orang yang melindungi orang yang lebih lemah”. Namun ini bukan sesuatu yang memberatkanku, tanpa tanggung jawabpun aku akan selalu melindunginya. Semua ini memang benar terjadi karena aku sangat sayang kepadanya. Terlebih karena kasih sayang yang mungkin takkan dia dapat dari kedua orang tuaku. Mereka sudah pergi kerumah yang jauh dan tenang. Meninggalkan cinta dan duka untuk tetap ada dalam menjaganya. Namnya Rios, ia masih muda dan bersemangat, namun berkelakuan tanpa pertimbangan, bahaya dan celaka selalu mengejarnya dalam kegelapan, tapi beruntung selalu datang berteman karena selalu terlepas dan terbebas. Kami tinggal dirumah yang sederhana, lorong gang dekat dipingiran. Kumuh tidak boleh dijadikan alasan, tanpa pekarangan dan juga hiasan bunga. Sejak terlahirkan hanya berteman dengan keadaan yang pas-pasan tanpa mengenal kemewahan. Tapi selalu ada kebanggaan yang selalu kami rasakan ditengah kehidupan yang dianggap sebahagian orang adalah penderitaan, yaitu kebersamaan. Menjadikan hari lebih bermakna dengan canda dan tawa, semangat dan selalu bekerja.

Pagi ini terasa indah, dingin yang tidak terlalu dingin dengan gelap yang pergi merana, dan langit sepertinya berwarna cerah seolah berkata ayo bekerja, aku selalu bangun seperti biasa dan selalu lebih cepat dari adikku, kulihat ia masih tertidur pulas, wajahnya terlihat lelah karena canda semalaman yang kami bincangkan. Sejenak berpikir lalu aku menuju kedapur, menyiapkan sesuatu untuk dapat dilahap hari ini. Huh… apa yang tersisa? Tanpa rasa manis dan karbohidrat tampaknya hari ini. Kusiapkan semuanya diatas meja lapuk yang tua dan berumur. Semua tak terlihat menyedihkan, karena sudah terbiasakan. Selesai menyiapkan semuanya aku segera mandi, menambah kesegaran dihari ini untuk mencari kehidupan untuk esok hari. Setelah selesai mandi sambil menggunakan kaus kaki berwarna coklat yang sudah robek pada bagian ujung jempolnya aku berjalan menuju meja lapuk itu, tempat dimana makanan tak seberapa itu berlabuh. Lalu kulihat Rios sudah terbangun, segera kupangil ia untuk bergabung denganku dan bersama-sama sarapan pagi ini. Bersamanya aku menghabiskan makanan yang ada dihari ini hanya untuk kenyang yang sementara, Namun hari ini juga aku harus segera mencari makanan untuk kenyangku esok . Hari-hari terlalu cepat berlari dan tak mau melihat kebelakang, semua selalu mendesak. Sepertinya ada teriakkan dalam telinga yang menyuarakan “saat ini harus bekerja”. Aku berkata kepada Rios bahwa aku akan keluar untuk mencari makanan pagi ini, namun Rios berharap ia bisa ikut denganku, ia ingin mengetahui dunia luar seperti apa dan ingin memulai kehidupan mandiri. Namun aku melarangnya karena itu dapat membahayakannya, tapi ia bisa memastikan tidak akan terjadi apa-apa kalau ia ikut denganku. Akhirnya aku mengiakan keinginannya untuk ikut denganku walau hal ini sangat bertentangan dengan hati.

Selesai melahap semuanya aku dan Rios akan pergi mencari makanan diluar sana. Hari ini mungkin akan menjadi hari yang melelahkan dimana ini adalah hari pertama buat Rios untuk ikut denganku bekerja. Memang benar aku juga sudah lama ingin mengajaknya untuk ikut bekerja. Namun fisiknya yang masih lemah selalui menghantuiku untuk melarangnya. Dan mungkin inilah saatnya untuk memperkenalkan dunia diluar sana.

Akhirnya kamipun pergi keluar dari rumah yang dingin itu untuk mencari makanan, dengan langkah yang sangat berhati-hati, kami melangkah dengan harapan tidak mengeluarkan bunyi agar tidak menarik perhatian para pemangsa lainnya. Kulihat orang-orang berlalulalang ditempat ini. Pagi ini menjadi sangat sibuk, ada anak-anak menggunakan seragam sekolah dengan meninting tas dipundak mereka seakan benar-benar siap untuk menimba ilmu disekolahnya, dan bapak itu dengan semangatnya akan berangkat kekantor untuk menafkahi keluarganya. Ada banyak bangunan ditempat ini, jauh dihadapanku terlihat bangunan besar transparan yang terbuat dari plastik berisi dengan butiran kecil yang berasa manis, orang-orang ini biasa menyebutnya sebagai toples gula, dan benar sekali kalau tempat ini adalah dapur, terlihat seseorang ibu muda yang sedang sibuk ditempat ini menyiapkan makanan di meja makan buat seluruh anggota keluarganya. Aku berbisik pada Rios, “kita akan mengambil gula-gula itu untuk makanan seminggu ini”. Dengan penuh perhatian ia mendengarkan arahan dariku. Layaknya seorang kapten bajak laut yang sudah menaikkan bendera perang aku menjadi pemimpin pasukan untuk menuju toples itu, menggunakan kerat-kerat ditanganku sebagai pengait aku memanjat bangunan licin tempat penyimpanan makanan itu. Dengan seksama Rios mengikuti gerakku dalam memanjat bangunan licin ini. Karena semangat, kerja keras, dan usaha yang serius akhirnya kami sampai dipuncak toples, dan segera kami terjun digunung gula yang menjadi makanan favorit semut-semut kecil seperti kami. Rasanya seperti juragan kaya yang berlimpah harta, namun kami harus segera sadar dari mimpi yang sejenak ini. Karena bahaya bisa kapan saja datang menyapa. Setelah selesai mengisi tas ransel kami dengan butiran gula-gula manis tersebut untuk makanan seminggu nanti, maka perburuhan ini harus segera diselesaikan. Kami harus segera pergi dari tempat ini sebelum terjadi musibah menimpa kami. Ooopps… terlihat bobot berat barang bawaan ini menyusahkan perjalan pulang kami sepertinya, tentu hal itu sangat melelahkan perjalanan memanjat ruangan ini. Sesampainya dipuncak tawa puas menghampiri segala usaha kami, belum selesai kami tersenyum terlihat sesosok perempuan membawa tas belanja berwarna putih hendak mendekati toples tempat kami berdiri, melihat bahaya besar datang mendekat, maka sambil meloncat kebawah aku berteriak menyerukan kepada Rios untuk segera meloncat dan pergi dari tempat itu, namun gerakkanya yang lambat mebuatnya tertinggal dan terdahului dengan tangan ibu muda itu yang ingin merapatkan tutup toples sebelum ia berangkat kepasar. Tubuh Rios terkait dengan tangannya dan terguncang jatuh kedalam tas belanjaan itu. Ia berteriak ketakutan dengan tangis yang tergambar dari wajahnya. Sekejap saja ibu itu berlalu dan menghilang dari hadapanku membawa Rios pergi jauh kenegri perasingan yang aku tak tahu itu dimana, mungkin ia takkan kembali lagi. Terjawab sudah kekecewaanku yang paling kutakutkan dan menghantarkanku pada kesendirian yang mendalam dilorong sunyi bawah tanah.

Rios, adikku yang muda dan jenaka meninggalkan kesedihan yang disudut ruang kosong hampa tanpa tanda tanya. Semoga ia bisa tertawa tanpa cinta keluarga dan bertahan diluar sana.***


design template by: warnafoto.blogspot.com